SESUAI ANTARA UCAPAN DENGAN PERBUATAN (intisari khutbah)

Lisan merupakan nikmat Allah yg sangat besar pengaruhnya. Kecil bentuknya tapi peran dan akibatnya sangat besar.  Seperti sebilah pisau, bisa bermanfaat jika bisa menggunakan dengan baik tetapi sebaliknya bisa membahayakan bila salah dalam menggunakannya. Seseorang bisa mulia dan juga bisa hina dan dibenci karenanya. Dengan lisan bisa beribadah atau sebaliknya bisa juga maksiat. Bahkan keimanan dan kekufuran sebagai puncak perbedaan posisi manusia di sisi Alloh swt. dengan lisan bisa terjadi dan dapat diketahui.
Dengan lisan seseorang akan bisa masuk surga atau masuk neraka. Jika lisan dipergunakan untuk selalu dzikir, tasbih, takbir, tahmid, tilawah Al Qur’an, amar ma’ruf nahi munkar dan lainnya maka akan menguntungkan dan membawanya dirinya ke surga. Sebaliknya jika lisan dipergunakan untuk berbicara keji dan kotor, dusta, ghibah, namimah, membuat fitnah, sumpah palsu maka akan merugikan dirinya dan menyebabkan masuk ke neraka.
Karena itu kita harus bisa menjaga lisan dengan tali syariah, dilandasi dengan akidah yang kuat. Dengan kesadaran bahwa ucapan kita dilihat, didengar dan dicatat oleh malaikat-malaikat Alloh dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Firman Alloh swt. dalam QS. Qof ayat 8 artinya :” Tiada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat Roqib dan Atid (pengawas) yang selalu hadir”.
Adapun cara menjaga lisan minimal ada 2 cara yang harus diperhatikan yaitu : menjaga agar lisan untuk hal yang maslahat, jauh dari mafsadat dan sia-sia, dan ucapan haruslah sesuai dengan amal perbuatan.
1.    Menjaga lisan dengan hal-hal yang maslahat (baik) dan jauh dari yang mafsadat (merusak) serta yang sia-sia.
Sabda Nabi Muhammad saw : “Siapa yg menjamin untukku apa yang berada antara dua rahangnya  (lisan) dan antara dua kakinya (kemaluan) maka aku menjaminnya dengan surga baginya” (HR Bukhori).
Sabda Rasululloh ketika ditanya oleh Abu Musa Al Asy ari ; “Ya Rosululloh, muslim bagaimanakah yg paling utama?” Jawab Rasul; “Muslim yang  aman orang muslim lainnya dari (bahaya) lisannya dan tangannya”. (HR. Bukhori Muslim)
Sabda Rasululloh lainnya : “Sesungguhnya kelembutan tidak ada dalam sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak meninggalkan sesuatu kecuali akan menodainya”.
Juga sabda Rasululloh saw. : “Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam” (HR. Bukhori).
Imam Syafi’i pernah mengingatkan agar seseorang sebelum berbicara berpikir lebih dahulu, apakah akan membawa maslahat (kebaikan, menguntungkan) ataukah mafsadat (merugikan).
Akibat yang ditimbulkan dari pembicaraan lisan ini ada 4 macam:
1.    Merugikan
2.    Ada untung dan ada rugi
3.    Tak Ada untung dan tak ada rugi
4.    Menguntungkan
Jika merugikan maka harus dihindari. Jika ada keuntungan tetapi juga ada kerugian maka dihindari. Bahkan jika tidak ada keuntungan walaupun juga tidak merugikan hendaknya ditinggalkan, karena sia-sia. Hanyalah yang membawa maslahat (keuntungan) kita perlu berbicara.
Abu Darda pernah berpesan : “jujurlah dengan dua telinga dan lisanmu, sungguh diciptakannya dua telinga dan satu lisan, agar kita banyak mendengar daripada berbicara”.
Rasululloh saw. pernah mengingatkan :”Sebagian dari baiknya seorang muslim adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat” (HR. At Tirmidzi)
Rasululloh juga pernah mengingatkan bahwa : “Lisanuka asadul laka”  lisanmu adalah harimaumu !
2.    Amal Perbuatan sesuai Ucapan (lisan)
Termasuk ajaran Islam yang esensi bahwa ucapan harus sesuai dan konsekwen dengan amal perbuatan. Janganlah bicara manis mempesona tetapi amal perbuatannya berbeda. Alloh swt. mengancam  dengan dosa besar dan kebencian-Nya. QS. As Shof 2-3 artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Alloh bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (Ash-Shof : 2-3).
Hati-hatilah kita terhadap sikap dan perbuatan seperti ini, juga berhati-hati terhadap orang yang melakukannya karena itu termasuk salah satu tanda munafik.
Semoga kita dapat menjaga lisan untuk hal-hal yang baik (maslahat), mampu menghindari hal yang buruk dan sia-sia serta mampu menyesuaikan antara ucapan dengan amal perbuatan.
Semoga Alloh memberikan kekuatan.
Amiin.

Kunsweb

Tentang Kuns Web

Belajar Blog, Sharing Religi dan Pendidikan
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan, Religi dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s